Wednesday, November 4, 2015

Bagaimana Cara Menilai Rumah?

Ada 3 (tiga) pendekatan untuk menilai rumah, yaitu:
  1. Pendekatan Perbandingan/ Pendekatan data pasar. Pendekatan ini dilakukan dengan membuat perbandingan dengan nilai rumah lain yang sejenis di sekitarnya dan sudah terjadi transaksi.
  2. Pendekatan Biaya. Pendekatan ini dengan memperkirakan berapa biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan rumah tersebut
  3. Pendekatan Pendapatan. Pendekatan ini dengan menilai rumah dengan mempertimbangkan berapa besar kemampuan rumah tersebut memberikan potensi penghasilan (dalam hal ini penghasilan tersebut adalah sewa).
Nah, bagaimana cara menilai dengan ketiga pendekatan tersebut? Let’s check it out

PENDEKATAN PERBANDINGAN/PENDEKATAN DATA PASAR

Untuk menerapkannya, terdapat 3 aspek penting yang harus dilihat yaitu: 1) Fisik rumah (yang terdiri dari tanah dan bangunan), 2). Legalitas rumah, dan 3). Aspek eksternal (dalam hal ini kondisi lingkungan sekitar).

Langkah pertama teliti dengan cermat rumah yang akan dinilai. Kita harus melihat langsung rumah tersebut. Dapatkan data fisik rumah seperti luas rumah, luas tanah, tinggi rumah jumlah kamar tidur, kamar mandi dan ruangan-ruangan lain. Teliti dengan cermat, lihat langsung setiap sudut rumah jangan sampai ada yang terlewat. Catat dan foto semua yang kita lihat. Apakah ada keretakan, ada kerusakan. Apakah ada aspek yang menonjol dari bangunan, desain dan tata letaknya misalnya. Apa bahan material bangunannya: bahan pintu jendela, dindingnya, plafon, lantai. Bagaimana pula finishing-nya apakah rapi, sempurna. Bagaimana dengan struktur bangunannya apakah memenuhi standar. Adakah fasilitas bangunan seperti AC, pemanas air. Bagaimana dengan instalasi air bersih dan kotornya. Apakah ada bangunan pendukung seperti kolam renang, gazebo, dan sebagainya.

Selanjutnya adalah identifikasi tapak tempat bagunan didirikan. Berapa luasnya, berapa jarak rumah dari batas pinggir tanah, berapa luas halaman, apakah tanah persis di pinggir jalan. Berapa lebar jalan depan rumah, apakah mobil dapat leluasa masuk. Apakah tanah sejajar dengan tinggi jalan, atau di bawah jalan atau di atas jalan. Bagaimana dengan letak lahan apakah ada di sudut jalan atau di tengah. Dan yang sangat penting adalah meneliti dokumen. Apakah tanah bersertifikat, apakah bangunan ber-IMB. Bagiamana status hukum rumah tersebut apakah clear atau sedang terbelit masalah.


Lalu, tinjau kondisi eksternal rumah. Catat apa yang terdapat di kanan kiri rumah: rumah tetangga, kebun, padang rumput, area hijau, kuburan, tempat sampah, atau yang lainnya. Bagaimana lingkungan rumah tersebut, apakah lingkungan rumah tinggal aman dan nyaman. Bagaimana akses menuju rumah tersebut apakah mudah dan nyaman, mudah dijangkau dengan kendaraan umum atau harus dengan kendaraan pribadi.


Semua hal tersebut harus diidentifikasi semua, jika sudah maka selanjutnya adalah mendapatkan data pembanding. Yaitu rumah di sekitar yang pernah dilakukan transaksi. Usahakan sedekat mungkin dengan rumah yang dinilai dan semirip mungkin serta terjadinya transaksi belum terlalu lama, kalau bisa jangan lebih setahun. Kemudian, lakukan identifikasi fisik tanah dan bangunan, fasilitas pendukung dan faktor eksternal serta dokumen legal rumah pembanding itu, sebagaimana yang kita lakukan pada rumah yang kita nilai. Catat dan ambil fotonya. Setelah selesai satu rumah pembanding, usahakan mendapat pembanding yang lain dan lakukan langkah lanjutan yang sama. Semakin banyak data pembanding semakin baik.


Nah bagaimana cara memberi nilainya, cara yang paling simple dengan memberikan poin atau prosentase +/- dari setiap aspek. Kalau istilah yang ada di dunia penilai di adjustment gitu deh..hahaha


PENDEKATAN BIAYA

Penilaian rumah dengan pendekatan biaya ini diperoleh dengan cara menjumlahkan nilai tanah ditambah dengan nilai bangunan beserta fasilitas pendukungnya. Pada penerapannya, nilai tanah maupun nilai bangunan dihitung per meter persegi dan dikalikan dengan luasannya.

Dengan pendekatan biaya ini, kita tidak memperdulikan apakah rumah yang sedang kita nilai adalah baru atau telah berumur lama, kita harus memperkirakan biaya membangun rumah tersebut dalam keadaan baru. Tahapan ini dilaksanakan tentu setelah kita melakukan penelitian lapangan pada fisik rumah secara cermat. Setelah diperoleh nilai biaya membangun baru, maka langkah selanjutnya adalah memperkirakan besaran penyusutan bangunan. Misal bangunan berumur 10 tahun, dan bangunan kurang mendapat perawatan rutin yang memadai. Nilai penyusutan fisik misalnya sebesar 20 persen. Jika biaya membangun bangunan baru adalah Rp400 juta, maka nilai bangunan adalah Rp320 juta. Nilai bangunan ini diperoleh dengan cara mengurangi biaya membangun bangunan baru Rp400 juta dengan penyusutan 20 persen. Setelah diperoleh nilai bangunan, maka selanjutnya nilai rumah dapat dikalkulasi dengan cara menambahkan nilai tanahnya.


Pada proses penaksiran nilai rumah menggunakan pendekatan biaya, penyusutan mempunyai peranan yang sangat penting untuk sampai pada nilai yang mendekati realita. Oleh karena itu besaran penyusutan dalam pendekatan biaya tidak selalu garis lurus. Bangunan yang lebih tua tidak selalu lebih besar prosentase penyusutannya dibandingkan bangunan relatif baru. Bangunan yang lebih tua tetapi dirawat dengan baik dan teratur disertasi dengan perbaikan-perbaikan secara rutin mempunyai prosentase penyusutan yang lebih rendah dibandingkan bangunan yang lebih muda tetapi tidak terawat. Pada penerapan pendekatan biaya, penyusutannya tidak hanya secara fisik tetapi ada juga penurunan nilai akibat tidak berfungsi optimalnya bangunan.


Sebenarnya pendekatan biaya ini yang paling mudah dicerna oleh logika yaa, tetapi dalam dunia professional pendekatan ini kurang digunakan sebagai pendekatan utama. Biasanya pendekatan biaya lebih digunakan sebagai cross check atas hasil penilaian dengan pendekatan data pasar. Alasannya karena nilai rumah tidak selalu sejalan dengan biaya membuatnya. Sebagai contoh, dua rumah yang dibangun dengan biaya yang sama, luas tanah dan bangunan sama, bisa bernilai berbeda jika yang satu dirancang oleh arsitek profesional sementara yang lainnya oleh seseorang yang tidak memahami kaidah rancang bangunan.


PENDEKATAN PENDAPATAN
Nah, kalau pendekatan pendapatan dalam penilaian rumah agak sulit karena pendekatan pendapatan lebih sesuai digunakan untuk income producing property (property yang menghasilkan pendapatan tertentu), seperti hotel atau restoran.

Pendekatan penilaian yang dilakukan dengan mendasarkan pada tingkat keuntungan yang mungkin dihasilkan oleh properti subjek pada saat ini dan masa yang akan datang yang selanjutnya dilakukan pengkapitalisasian untuk mengkonversi aliran pendapatan tersebut ke dalam nilai properti.

Ada 4 metodologi yang lazim digunakan dalam Pendekatan Pendapatan:
1.     Gross Income Multiplier (GIM) / Net Income Multiplier (NIM)
2.     Direct Capitalization
3.     Discounted Cash Flow (DCF)
4.     Residual Technique

Oke sekian dulu ya,

Tuesday, October 20, 2015

Lembah Baliem

Jika ditanya oleh teman saya, tempat di Indonesia yang paling ingin saya kunjungi, maka jawaban saya adalah “Lembah Baliem”. Entah apa alasannya yang jelas saya memang telah “mengagumi Papua”. Meskipun telah mengunjungi Papua beberapa kali, tetapi rasanya belum afdol kalau belum sampai ke daerah Pegunungan Tengah (re: Wamena dan sakitarnya).  Mungkin yang menginspirasi saya untuk berkunjung kesana karena beberapa buku tentang Papua yang saya miliki. Saya sendiri pun hanya bisa bercerita tentang Lembah Baliem ini dari beberapa literatur yang saya miliki. Barikut ceritanya:

Lembah Baliem ditemukan secara tidak sengaja ketika Richard Archbold Ketua Tim Ekspedisi yang disponsori oleh American Museum of Natural History melihat lembah hijau luas dari kaca jendela pesawat pada tanggal 23 Juni 1938. Penglihatan tidak sengaja ini adalah awal dari terbukanya isolasi Lembah Baliem dari dunia luar. Tim Ekspedisi yang sama di bawah pim­pinan Kapten Teerink dan Letnan Van Areken mendarat di Danau Habema. Dari sana mereka berjalan menuju arah Lembah Baliem melalui Lembah Ebele dan mereka mendirikan basecamp di Lembah Baliem.

Pada tanggal 20 April 1954, seorang misionaris Amerika, Dr. Bromley yang pernah hidup dan tinggal di Tangma, Kurima, datang ke Lembah Baliem dengan tugas utama memperkenalkan agama Kristen pada suku Dani di Baliem, Stasiun misionaris pertama didirikan di Hitigima. Selama tujuh bulan mereka mendirikan landasan pesawat udara pertama. Beberapa waktu kemudian misionaris menemukan sebuah area yang ideal untuk dijadikan landasan pen-daratan pesawat udara. Pada tahun 1958, di daerah sekitar landasan, tepatnya berbatasan dengan daerah Suku Mukoko, pemerintah Belanda mendirikan pos pemerintahannya. Kemudian baru pada tahun 1961, eksplorasi ilmiah yang lengkap dilakukan oleh sebuah tim dari Amerika. Salah seorang anggotanya adalah antropolog Karl G. Heider, yang kemudian menjadi terkenal oleh bukunya yang berjudul The Dugum Dani yang mengungkapkan banyak hal mengenai adat istiadat suku Dani yang selama itu masih tersembunyi. Dari ekspedisi Heider pula tercipta buku bergambar Gardens of War dan bersama Robert Gardner, mereka membuat film berjudul Dead Birds.

Nah dari artikel itulah kemudian saya membayangkan dan bercit-cita ingin ke Lembah Baliem. Secara administrasi, Lembah Baliem berada di Wamena yang merupakan salah satu daerah yang berada di hamparan Lembah Baliem, suatu lembah aluvial yang terbentang pada areal di ketinggian 1500 - 2000 m di atas permukaan laut. Lembah Baliem dikelilingi oleh Pegunungan yang terkenal karena puncak-­puncak salju abadi antara lain: Puncak Trikora, Puncak Yamin dan Puncak Mandala. Pegu­nungan ini amat menarik wisatawan dan peneliti ilmu pengetahuan alam karena puncaknya ini yang selalu ditutupi salju walaupun berada di kawasan tropis. Lereng pegunungan yang terjal dan lembah sungai yang sempit dan curam menjadi ciri khas pegunungan ini.

Saat ini, Wamena merupakan ibukota kabupaten yang termahal di Indonesia. Kota ini berada di tengah-tengah daerah Papua yang belum mempunyai jalan darat untuk hubungan keluar daerah dan tidak mem­punyai perbatasan dengan laut. Transportasi ke dan dari Wamena praktis hanya tergantung dari angkutan udara yang memerlukan biaya yang mahal. Walaupun demikian Kota Wa­mena dan sekitarnya ramai karena adanya arus migrasi lokal dari daerah pinggiran kota dan pendatang dari luar daerah. Sejak tahun 1971, sejak diperkenalkan ekonomi pasar, penduduk pinggiran kota dan pendatang dari Makasar, Bugis, Toraja dan Jawa datang meramaikan pasar.

Lalu, apa yang membuat saya tertarik untuk mengunjungi tempat ini, berikut jawabannya:
  1. Suku Dani
  2. Upacara dan Ritus Sepanjang Daur Hidup
  3. Potong Jari sebagai tanda duka
  4. Sistem Perang
Ahh semoga cita-cita saya untuk mengunjungi Lembah Baliem ini kesampean yaaa, 
Insya Allah (^-^)

Sunday, October 4, 2015

Ojek Oh Ojek


Kali ini, saya ingin menumpahkan uneg-uneg tentang perkembangan ojek di Ibukota. Sangat menginspirasi untuk saya kritisi karena beberapa pertimbangan terutama semakin maraknya per-ojek-an di wilayah Jakarta dan sekitarnya yang un-disiplined! Iya, salah satunya pada tarif harga yang mereka berlakukan. Terus terang aja mereka ini sudah semakin jual mahal banget apalagi kalau wilayah operasinya di daerah langganan macet. Wuuiiih harganya bisa sama kayak naik taksi dengan argometernya yang cepat banget berubah!

Maraknya ojek sekarang ini seperti maraknya Pedagang Kaki Lima (PKL) di Ibukota. Dulu, PKL dianggap sebagai masalah yang mengganggu ruang kota namun sekarang ini menjadi sektor semi-formal yang dilegalkan dengan cara pengaturan, penataan dan pengenaan retribusi yang disetorkan ke kas daerah. Memang tidak bisa dipungkiri juga, kalau sektor ini mampu memberikan lapangan usaha ditengah-tengah kondisi perekonomian bangsa yang semakin sulit, dimana lapangan kerja semakin terbatas. Lalu, kenapa saya katakan keberadaan Ojek sama dengan keberadaan PKL? Karena sesungguhnya bisnis perojekan adalah bisnis yang tumbuh secara swadaya karena bertemunya faktor permintaan dan penawaran secara bebas.

Jika kita telusuri sejarah ojek, menurut cerita orang-orang siy berasal dari kata “objek” yang kemudian dijadikan kata kerja dengan logat jawa menjadi “ngobjek”. Namun bila mengutip dari salah satu website, Ojek merupakan sepeda yang ditaksikan (W.J.S Poerwadarminta). Nah, untuk di Jakarta sendiri, ojek pertama kalinya muncul (tahun 1970) berupa ojek sepeda yang adanya di Pelabuhan Tanjung Priok. Hal ini dilatarbelakangi karena adanya larangan terhadap bemo dan becak masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok sehingga menyebabkan orang-orang yang mempunyai sepeda mendapat kesempatan untuk menawarkan jasa-jasanya. Nah dari sini bisa terlihat bahwa ojek ada karena adanya suatu daerah yang tidak dapat dijangkau dengan angkutan umum atau tidak dapat diakses dengan kendaraan roda empat sehingga diperlukan “feeder” atau pengumpan untuk sampai dilokasi.

Lalu, bagaimana dengan kondisi saat ini? Apakah ojek dibutuhkan karena adanya ketidakjangkauan suatu daerah dengan transportasi umum? Hmm, kalau menurut saya pribadi siy IYA, karena adanya daerah yang tidak dapat dijangkau dengan angkutan umum. Ditambah lagi, adanya kecendrungan orang Indonesia yang enggan “Berjalan Kaki” karena belum menjadi budaya hidup sehingga kita cenderung memilih ojek karena lebih cepat dan praktis. Apalagi di Jakarta yang semakin sumpek, panas, dan penuh polusi. Maka ojek adalah pilihan yang banyak dipilih masyarakat walaupun membutuhkan biaya yang lebih mahal.

Saat ini bisnis ojek motor di Jakarta semakin hidup dan menjamur bahkan menjadi pilihan untuk menembus kemacetan. Apalagi di fasilitasi dengan teknologi dengan munculnya “ojek online” yang dapat di booking lewat smartphone, seakan-akan membuat keberadaan ojek memang layak “diakui”. Padahal jika melihat dari regulasi yang ada, sesungguhnya ojek menjadi sebuah kontroversi sekaligus problematika system transportasi darat. Berikut beberapa cuplikan yang saya ambil dari beberapa website.




Lalu pendapat saya pribadi yang pernah belajar tentang masalah perkotaan, akar permasalahan ojek bukanlah pada tidak adanya regulasi, melainkan karena keterlambatan pihak yang berwenang dalam mengatur sistem transportasi massal. Jelas sudah terlihat latar belakang adanya ojek karena “ketidakjangkauan suatu daerah dengan transportasi umum” yang dibiarkan terlalu lama hingga kemudian berkembangnya kepemilikan kendaraan pribadi (dalam ini motor) secara massif sehingga menjadi celah untuk melayani “ketidakjangkauan daerah dengan transportasi umum” tersebut dengan menyewakan jasa motor mereka.

(So? Gak usah mencari siapa yang salah disini, karena kita paling jago kalau mencari yang salah).

Saya sendiri siy belum tau bagaimana baiknya tentang ojek ini. Karena saya sendiri pun termasuk pengguna ojek. Banyak cerita yang saya dapat dari tukang ojek yang saya tumpangi, terutama alasan mereka memilih menjadi tukang ojek. Tapi sepaham saya, perkembangan ojek ini memang harus ditahan jangan semakin banyak orang beralih profesi menjadi tukang ojek karena akan semakin sulit dikendalikan jika ojek dijadikan transportasi umum/massal.

Pandangan saya siy, untuk mengatasi masalah transportasi “ketidakjangkauan daerah dengan transportasi umum” adalah dengan memperbaiki “Struktur Ruang Kota” dan “Perbaikan dan peremajaan kendaaraannya serta peningkatan pelayanan transportasi umum”. Nah, untuk peningkatan pelayanan transportasi umum sepertinya sudah dilakukan oleh pemerintah, tetapi untuk peremajaan kendaraannya masih sangat belum. Masih banyak banget kendaraan umum di Jakarta yang jauh dari kata layak, aman dan nyaman. Kemudian, terhadap struktur ruang kota sepertinya memang perlu “evaluasi struktur ruang kota”. Bagi saya ini penting, karena inilah kunci pembentuk ruang kota yang teintegrasi. Selama ini yang terjadi, pembangunan kota kurang melihat dari struktur ruang kotanya padahal Struktur ruang kota sudah ada dalam dokumen RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), tetapi memang ini masih sangat kurang aplikatif terhadap perubahan tata guna lahan.

Sekian dulu cerita saya di siang yang sangat panas ini yaa.

Monday, August 10, 2015

Rindu Indahnya Tao Toba

Kali ini saya ingin berbagi cerita, ketika saya ditugasi untuk pergi ke Kabupaten Samosir. Kabupaten Samosir adalah sebuah kabupaten yang letaknya di tengah-tengah Danau Toba atau di Pulau Samosir. Kabupaten ini menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara yang dikelilingi oleh Danau Toba. 

Jika bercerita tentang sejarah terbentuknya Danau Toba sangatlah akan panjang blog ini. Lagipula bukanlah keahlian saya karena saya tidak memahami seutuhnya ilmu geologi, dibutuhkan sharing dari teman yang pernah belajar/kuliah di geologi untuk membahasnya. Namun, sedikit saya cerita bahwasanya Danau Toba adalah danau vulkanik. Danau yang terbentuk akibat letusan gunung berapi, dan merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Proses terbentuknya Danau Toba oleh letusan gunung berapi yang membentuk kaldera, kemudian kaldera tersebut menampung air yang membentuk danau. Pulau di tengah-tengah danau terbentuk dari tekanan magma ke atas, namun tidak keluar magmanya, sehingga terbentuklah Pulau Samosir.

Namun, saya disini hanya akan berbagi tempat-tempat yang bisa dinikmati di Kabupaten Samosir berdasarkan pengalaman pribadi saya.

Untuk menuju Kabupaten Samosir dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu jalur darat dan jalur danau. Akses darat dapat dilalui via Jalan Tele yang menghubungkan Kabupaten Samosir dengan Kabupaten Humbang Hasundutan. Sementara jalur danau yaitu dengan menggunakan Kapal Ferry. Nah, saat itu kebetulan saya memilih menyebrang menggunakan Kapal Fery karena waktu tempuh yang relatif lebih singkat. Hanya dibutuhkan 1 jam untuk menyebrang dari Dermaga Ajibata-Tomok. 

Pelabuhan Ajibata
Tempat wisata yang saya kunjungi saat itu dan menarik perhatian saya adalah Museum Huta Bolon. Terletak di Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Museum Huta Bolon merupakan tempat penyimpanan benda-benda kuno orang batak. Untuk masuk ke Museum ini sebenarnya gratis, namun saat itu ada beberapa anak kecil yang bermain dekat pintu masuk sehingga kami dikenakan tiket masuk. Huta Bolon merupakan rumah adat warisan dari Raja Sidauruk. Namun seiring dengan perkembangan pariwisata maka sejak 1969 bangunan ini dijadikan sebagai museum terbuka.

Rumah Bolon
Makan Raja 
Rumah Suku Batak
Syifa & Patung Sigale-Gale

Perkakas Kuno Suku Batak

Selain Museum Huta Bolon, ada beberapa tempat yang dikunjungi seperti:
  • Makam Raja Sidabutar, berada di Tomok, makam yang terbuat dari batu utuh tanpa persambungan yang dipahat untuk tempat peristirahatan Raja Sidabutar pengusa kawasan Tomok pada masa itu.
  • Batu Parsidangan, berada di Desa Siallagan adalah batu yang disusun sedemikian pada masa pemerintahan Raja Siallagan untuk tempat mengadili dan mengeksekusi para kriminal.
  • Pertunjukan Sigale-gale, berada di Tomok adalah kesenian rakyat berbentuk patung yang dibuat sedemikian sehingga dapat menari mengikuti irama musik tradisional gondang.
  • Tuktuk Siadong, kawasan berbentuk tanjung peninsula yang strategis sehingga saat ini menjadi pusat kegiatan wisata (central tourism district), dipenuhi oleh usaha hotel dan restoran serta pelukis dan pengukir.
Sebenarnya masih banyak tempat yang bisa dikunjungi. Karena saat itu tujuan saya tugas ada di sekitar Pangururan dan Kecamatan Simanindo maka pada lokasi ini saja tempat jalan-jalan saya. Alasannya karena saya tidak punyak banyak waktu disana. (*maaf ya bagi yang baca*) hehe

Salah satu tempat juga yang ingin saya ceritakan adalah tempat penginapan saya yang kece banget. Nama tempatnya Samosir Villa Resort yang berada di Tuk-Tuk. Villa ini menawarkan view yang ciamik dengan ornamen-ornamen dan ukiran asli Suku Batak. Konon katanya villa ini favorit bagi wisatawan loh, termasuk sayaaaa. 





Samosir Villa Resort
Tao Toba
Hmm, ada lagi yang menarik perhatian saya waktu mengunjungi Pulau Samosir. Yaitu pada saat saya menyebrangi Danau Toba dengan menggunakan Kapal Ferry. Di kapal ferry tersebut terdapat beberapa anak kecil yang mempunyai keahlian menyelam. Yap, mereka sangatlah ahli dalam mencari uang koin yang kami lemparkan ke Danau Toba kemudian mereka menyelam mencarinya. Jadi, mereka meminta saya melemparkan uang koin, mereka mencari uang koin tersebut, lalu uang koin tersebut untuk mereka. Lucunya, saat itu saya kehabisan uang koin nominal Rp 500 dan Rp 1000,- tapi saya punya beberapa uang koin nominal Rp 100-200. Nah, karena saya sangat menikmati pertunjukan mereka maka saya lemparkan saja uang tersebut. Dan tau gak? Mereka memprotes saya karena melempar uang dengan nominal kecil. Hahaha. Lalu, saya tanya kalau uang kertas bisa gak? Dan kata mereka "bisa kakak, ayo lempar lagi". Kemudian saya dihasut sama bos saya untuk meminta siy anak ini menyanyi dulu sebelum dikasih uangnya. Dan mereka pun menyanggupi. Berikut video yang mereka nyanyikan untuk saya saat itu. 


Ketika siy anak kecil ini selesai menyanyi, maka saya pun rooming seketika. Karena apa? karena lagu yang dinyanyikan adalah lagu batak lawas dan saya tidak sama sekali memahaminya. Setelah tanya sama bos saya, arti lagu tersebut seperti ini:

artinya: Danau Toba..di waktu itu bulan purnama, aku duduk berdua denganmu. Senang rasanya kala itu. Bulan menjadi saksi apa yang telah kau perbuat. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku. Hanya kamu yang memiliki aku. 

Ah romantis banget kan, dan percaya gak percaya, saya pun menjadi pengagum budaya batak. Penasaran banget sama Suku Batak sampai-sampai bercandaan saya dengan teman saya, "ah mau dong sama cowo batak" hahahahahaha.

NB:
Menceritkan perjalanan saya ke Pulau Samosir dilatarbelakangi karena 2 bulan lalu saya baru menyelesaikan novel Gelombang karya Dewi Lestari. Latar belakang yang dingkat merupakan budaya batak dengan lokasi di Danau Toba. Dan benar kata orang, keindahan Danau Toba membuat ingin kembali menikmatinya.


Salam Cipacipoy
Mei 2014