Thursday, March 27, 2014

24 Anniversary in Jayapura

Jayapura menjadi tempat hari ulang kelahiran saya yang ke 24 tahun. Ini kali pertama bagi saya memperingati hari kelahiran di luar Pulau Jawa. Maklum saja di keluarga saya hari kelahiran memang tidak dirayakan secara besar-besaran. Mama biasanya memperingatinya dengan membuat acara pengajian. Sebenarnya juga tidak ada yang spesial dari hari kelahiran saya ini. Hanya karena saya ingin menceritakan di blog sedikit bagian kehidupan saya tentang hari kelahiran maka saya niat sekali membuat postingan ini. Hehehehe. (Alasan sebenarnya: karena saya lagi magabut banget niy di kantor!) mhihihi

Well, Tujuh Belas Juni merupakan waktu saya dilahirkan di dunia ini. Tanggal tersebut hampir berada di tengah tahun dan tengah bulan di setiap tahunnya. Semenjak kecil, hari kelahiran di keluarga saya selalu diperingati hanya dengan pengajian sederhana. Nah, pada tahun 2013 lalu pun begitu, hanya saja pengajiannya dilakukan sebelum tanggal tujuh belas dan tepatnya di malam tanggal 15 Juni. Kenapa kok dilaksanakannya di tanggal tersebut? Yap, itu karena saya harus lagi kembali ke Jayapura untuk urusan pekerjaan. Waktu itu ceritanya, mama pun agak keberatan kalau saya harus pergi ke Jayapura lagi. Alasannya sepele banget, cuma karena naik pesawat ke Jayapura itu membutuhkan waktu yang cukup lama. *Padahal saya pernah berada di pesawat yang lebih dari 6 jam* ahaha. Untung saja ada papa yang dengan santainya mengizinkan saya karena papa selalu mengajarkan untuk professional dalam hal pekerjaan.

Dan kalau ditanya bagaimana rasanya ulang tahun di Jayapura? Maka saya akan menjawab: Biasa ajaaaa, tidak ada yang spesial disana! Ahahaha. Hmmb, memang siy ada yang tidak sempurna yaitu saya yang tidak bisa makan masakan special mama untuk saya di hari istimewa saya. Tapi, gapapa gapapa. Saya masih menerima banyak ucapan ulang tahun dari teman-teman saya meskipun kebanyakan ucapannya baru saya terima di waktu sore hingga malam hari. Dan itu karena agak susahnya sinyal hingga saya perlu mendapatkan sinyal WiFi di hotel. Hehe.

Oya, saya juga tidak sedih sedih banget, karena saat itu bos saya memberikan sepotong black forest dari restaurant di hotel. Yaa lumayanlah meskipun tidak sebesar yang biasa saya terima. Ahahaha. Tapi saya tetap ingin mengucapkan terima kasih untuk bos saya itu.

birthday cake 
Hal lain yang membuat saya tidak sedih banget, juga urusan kerjaan saya berjalan sangat lancar (Alhamdulillah, Thanks to Allah Swt). Hal tersebut pun yang menyebabkan saya punya cukup banyak waktu untuk have fun di Jayapura. Meskipun saya sudah 2 kali di tahun 2013 ke Jayapura, tetap saja saya belum pernah keliling Kota Jayapura. Untuk itu, saya pun banyak mengambil foto-foto yang menyenangkan. Hehehe.

Ahh yaa, saya pun merasakan makan fast food yang bernama “KFC” di Jayapura. Sebenarnya juga tidak ada yang istimewa dari KFC tersebut, jenis makanan dan minumannya pun hampir sama dengan yang di Jakarta meskipun tidak selengkap di Jakarta. Hal yang paling membedakan hanya harganya saja. Ini pun bisa di maklumin karena memang standar harga barang di Pulau Papua relatif lebih tinggi karena biaya transportasi yang mahal. Misalnya saja harga 1 potong ayam yang biasa kita beli kan berkisar 10 ribuan, nah di Jayapura bisa 14 ribuan. Kemudian, paket 5 ribu yang biasa kita kenal dengan nama paket goceng, nah di Jayapura harganya bukan 5 ribu lagi dan menurut saya harusnya nama paketnya pun disesuaikan bukan paket Goceng lagi karena harganya sudah menjadi 7 ribu disana. hehehe.

Saya pun sempat main ke pasar tradisional di Kota Jayapura, meskipun sudah tidak ramai namun masih ada mama-mama yang berjualan. Yap,mama merupakan sapaan halus dan paling disukai bagi kaum ibu-ibu di Papua. Bahkan nama pasarnya pun juga unik loh yaitu “Pasar Sementara Mama Mama Papua” Mhihihi. Pasar ini merupakan pasar sementara yang menampung pedagang khususnya bagi mama mama Papua yang sebelumnya berjualan di sekitaran swalayan Gelael, Jayapura. Barang-barang yang diperjualbelikan juga beragam. Tetapi barang yang menarik perhatian saya adalah buah pinang, sirih, kapur dan sagu di lapak kayu. Pinang dijual seharga Rp 1000 per dua buah, kapur seplasik kecil seharga Rp 1000. Hmbbh, saat disana pun saya sempat sedikit berfikir tentang tantangan yang dihadapi mama mama pedagang pasar yang kian hari kian berat. Harga barang yang semakin melambung menjadi semakin sulitnya mereka bertahan. Belum lagi jika yang diperjualbelikan adalah barang-barang yang berasal dari luar Papua, yang membutuhkan biaya angkutan. Sangat kasiaaan sekali dan saya pun belum bisa apa-apa. Well, saya pun berharap bisa belajar banyak secara fast-track untuk bisa berkontribusi dan pekerjaan yang saya lakukan bisa bermanfaat. aamiin

@Traditional Market
Selain main-main ke pasar, saya pun sempat jalan-jalan mengitari Kota Jayapura. Yap, meskipun gak ke tempat wisata yang terkenal di Jayapura hanya disekitaran pantai dan Danau Sentani. Saya pun cukup have fun menikmati perjalanan saat itu di Jayapura. 

From the Top 
Danau Sentani from DOK II
Festival Danau Sentani (baru tau setelah harus pulang) hiks
Okey, see u again in other story (*psst my bos wanna discuss with me about the project ..mhihihi)

Wednesday, March 19, 2014

Jelajah Perbatasan Indonesia – Timor Leste #part1

Pasca Timor Leste menjadi sebuah negara, terdapat 5 (lima) kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Timor Leste yaitu, Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Malaka, Kabupaten Kupang dan Kabupaten Alor. Khusus Kabupaten Alor dan Kabupaten Kupang merupakan wilayah yang berbatas laut dengan wilayah Timor Leste.

Pada Kabupaten Belu terdapat 10 (sepuluh) wilayah kecamatan yang berbatasan dengan Timor Leste antara lain Kecamatan Kakuluk Mesak, Kecamatan Kota Atambua, Kecamatan Atambua Barat, Kecamatan Atambua Selatan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kecamatan Raihat, Kecamatan Lamaknen, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kecamatan Tasifeto Barat dan Kecamatan Nanaet Duabesi. Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Belu, Motaain (Tasifeto Timur), Turiskain (Lasiolat), dan Motamasin (Kobalima Timur) dikembangkan sebagai Pusat Pelayanan Pintu Gerbang Negara. 

Sementara, pada Kabupaten TTU terdapat 9 (sembilan) wilayah kecamatan yang meliputi Kefamenanu, Nalbenu, Insana Utara, Miaomaffo Barat, Bikomi Utara, Bikomi Tengah, Bikomi Nilulat, Mutis dan Musi. Pada Kabupaten TTU, Oepoli, Haumeni Ana, Napan, dan Wini dikembangkan sebagai Pusat Pelayanan Pintu Gerbang.

Pada bulan Januari 2013, berdasarkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pembentukan Kabupaten Malaka di Provinsi Nusa Tenggara Timur, telah resmi bahwa Kecamatan Kobalima Timur menjadi bagian dari daerah otonom baru yaitu Kabupaten Malaka. Sebelumnya, Kecamatan Kobalima Timur merupakan bagian dari Kabupaten Belu.

Dan, saya pun berkesempatan menjejakkan kaki sepanjang perbatasan di Kabupaten Belu, mulai dari bagian utara tepatnya di Pintu Perbatasan Mota’ain hingga ke selatan di Pintu Perbatasan Motamasin. Banyak informasi dan pengalaman yang saya dapatkan selama melakukan perjalanan tersebut. Dan saya pun akan memulai cerita di Kecamatan Tasifeto Timur yang memiliki pintu gerbang resmi menuju Timor Leste.

Let’s enjoy..

Kecamatan Tasifeto Timur memiliki posisi yang strategis karena berbatasan langsung dengan Negara Republik Democratic Timor Leste terutama pada Distrik Bobonaro dan Distrik Cova-Lima. Pada enam desa perbatasan di Tasifeto Timur hanya satu desa yang memiliki Pintu Lintas Batas yaitu Pintu Lintas Batas Mota'ain di Desa Silawan sedangkan desa perbatasan lainnya hanya memiliki pos penjagaan saja. Terdapat beberapa fasilitas perkantoran di Pintu Lintas Batas Mota’ain seperti kantor imigrasi, kantor bea cukai, pos satgas pamtas, karantina kesehatan, karantina tumbuhan, pasar, pos terpadu, gudang, bank mandiri, kepolisian dan pos terpadu.
 
Layout PLB Mota'ain
Aktivitas lintas batas di PLB Mota’ain dimulai pada pukul 08.00 sampai dengan 16.00 WITA. Lintasan perbatasan Mota’ain adalah yang paling ramai bila dibandingkan dengan PLB Turiskain dan PLB Motamasin. Hampir setiap hari terdapat ±100–130 pelintas batas dengan kepentingan yang berbeda-beda, akan tetapi pelintas batas bisa lebih banyak jika ada perayaan seperti hari lebaran atau natal. Untuk masyarakat Indonesia biasanya hanya melintas untuk urusan keluarga seperti menghadiri pesta, acara kelahiran, acara kematian atau acara-acara adat lainnya. Sedikit sekali masyarakat dari Indonesia yang melintas untuk urusan bekerja, berdagang ataupun bersekolah. Akan tetapi, sedikit berbeda dengan masyarakat Timor Leste yang kebanyakan melintas untuk kegiatan berbelanja, bekerja, bersekolah maupun untuk urusan keluarga.

Proses keluar masuk perbatasan antara Indonesia dengan Timor Leste dapat dikatakan sangat sederhana. Hanya dengan pasport dan sedikit wawancara, masyarakat bisa bebas melenggang menuju wilayah Indonesia atau sebaliknya menuju Timor Leste. Khusus untuk masyarakat Desa Silawan dapat melintas Pintu Lintas Batas Motaain dengan menggunakan Pas Lintas Batas. Pas Lintas Batas merupakan dokumen lintas batas bagi penduduk lokal di kecamatan perbatasan dari kedua negara untuk dapat melintasi perbatasan hingga sejauh 10 kilometer dari pintu lintas batas. Untuk masyarakat Desa Silawan sekitar 50 persen warganya sudah mempunyai pas lintas batas yang sering mereka gunakan untuk mengunjungi keluarga mereka di Timor Leste.

Gapura Batas Indonesia (PLB Mota'ain)
Pada kantor imigrasi yang berukuran 3 x 5 meter, masyarakat biasanya mengurus perizinan dan membayarkan visa. Warga Timor Leste yang akan masuk ke wilayah Indonesia dikenai biaya pengurusan pasport dan visa sekitar US$ 26 sampai US$ 30. Sementara, Indonesia belum memberlakukan itu, setiap warga Indonesia yang akan melintas ke Timor Leste dikenai biaya Rp 250.000. Pada PLB Motaain belum diberlakukan Visa on Arrival (VoA) sementara RDTL telah memberlakukannya. Kesulitan yang dihadapi adalah belum ada bank yang siap untuk melakukan pembayaran dan belum adanya peralatan. Mengingat pada wilayah Mota’ain dihadapkan pada ‘blank spot” semua jaringan. Selain itu, pada PLB Mota’ain juga belum memiliki peralatan yang memadai, pengecekan dan pendataan setiap pendatang dari Timor Leste dilakukan secara manual, belum ada Border Control Manajemen (BCM) yang terpasang secara online seperti di Bandar Udara dan Pelabuhan lainnya. Dengan tidak adanya BCM, petugas tidak bisa melakukan cegah dan tangkal (cekal) terhadap sejumlah orang yang diduga melakukan kejahatan tertentu karena tidak ada data. Apalagi data secara online soal adanya permintaan cekal terhadap orang yang keluar masuk juga tidak bisa langsung dilihat.

Kantor Bea Cukai
Kantor Imigrasi
Sementara itu, pada PLB Mota’ain tidak terdapat pemeriksaan X-ray, penimbang barang yang dibawa, metal detector, kecamatan pengintai malam (night vision) dan tidak ada pemindai suhu badan (thermal scanner). Semua pemeriksaan dilakukan secara manual tanpa teknologi modern dengan bantuan petugas TNI dan Polisi. Pintu pelintas batas atau border RI-RDTL hanya dipisahkan sebuah jembatan yang di bawahnya merupakan sungai kering. Di tengah jembatan ini diberikan garis bertanda kuning, sebagai tanda batas negara. Jarak antara pos pelintas batas yang dikelola Indonesia dan Timor Leste ini berjarak sekitar 200 meter. Untungnya secara umum kondisi PLB Mota’ain aman. Hanya saja diperoleh informasi dari petugas keamanan, baik TNI dan Polri yang berjaga disana, banyak pelintas batas yang memanfaatkan jalur-jalur tikus yang bisa dilalui karena belum adanya pos pengamanan atau memang jauhnya untuk mencapai PLB Mota’ain.

Fasilitas Pemeriksaan di Kantor Imigrasi Timor Leste
Untuk aktifitas lainnya di sekitar PLB Mota’ain tidaklah terlalu ramai, seperti aktifitas di terminal maupun pasar. Meskipun telah ada terminal dan pasar, namun keberadaanya kurang difungsikan dengan baik oleh masyarakat. Bahkan untuk terminal tidak ada mobil angkutan maupun bis yang berhenti disana. Kendaraan penumpang cenderung menurunkan dan menaikkan penumpang di jalan tidak masuk ke dalam terminal. Sementara untuk pasar telah memiliki bangunan permanen dan pernah digunakan sebagai tempat jual beli barang. Namun, hingga sekarang pasar tersebut belum difungsikan kembali sejak adanya insiden pada tahun 2002. Hal ini membuat aktivitas jual beli di pasar tersebut berhenti. Lokasi pasar umum tersebut kurang strategis karena berada paling belakang kantor militer, pos imigrasi, bea cukai, dan kantor lainnya. Mengingat PLB Mota’ain yang sangat strategis dan memiliki fasilitas yang cukup lengkap, akan sangat disayangkan apabila kedua fasilitas tersebut tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Perlu dilakukan tinjauan ulang terhadap keberadaan fasilitas tersebut, apabila memang kedua fasilitas tersebut tidak dapat menciptakan interaksi perbatasan antar kedua negara, maka lahan untuk maka fasilitas terminal maupun pasar bisa di alih fungsikan untuk dibangun fasilitas yang benar-benar dibutuhkan masyarakat perbatasan. Hal ini mengingat harga lahan yang sudah sangat tinggi di PLB Mota’ain. 

Terminal & Pasar di PLB Mota'ain
Kondisi Perekonomian
Sementara itu, untuk kegiatan perekonomian di perbatasan, hampir sebagian besar masyarakat Timor Leste berbelanja di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Sedikit sekali masyarakat perbatasan Tasifeto Timur yang berbelanja ke Timor Leste. Biasanya masyarakat Timor Leste berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti beras, daging maupun minyak sedangkan masyarakat Indonesia biasanya berbelanja minuman ke Timor Leste. Hal ini karena di Timor Leste banyak menjual minum yang di impor dari Australia maupun Korea. Ketergantungan masyarakat Timor Leste terhadap kebutuhan pokok Indonesia dapat ditemui hampir setiap hari sepanjang pekan terakhir, puluhan truk pengangkut bahan pokok serta barang kelontong melintas perbatasan Atapupu-Mota’ain menuju Batugade di Timor Leste.

Ketergantungan masyarakat Timor Leste terhadap barang-barang pokok sebenarnya menguntungkan perekonomian warga NTT khususnya di Atambua. Hal ini karena alat tukar yang digunakan masing-masing negara berbeda sehingga menyebabkan selisih harga yang cukup besar. Misalnya saja, satu ekor babi yang dijual di pasar lokal biasanya dihargai Rp 500.000, kalau dibeli masyarakat Timor Leste sekurang-kurangnya di bayar Rp 700.000. Kemudian, untuk satu karung beras isi 25 Kg yang dijual di Timor Leste harganya lebih tinggi Rp 25.000 dibandingkan dijual di wilayah Atambua. Untuk barang-barang impor seperti rokok impor dan Anggur Porto dari Australia maupun negara lainnya bisa didapati dengan mudah di wilayah perbatasan Timor Leste. Hal ini karena barang-barang tersebut terkenal di jual bebas. Rokok impor dijual hingga Rp 50.000 per bungkus dan anggur Porto isi 5 liter dijual Rp 500.000. Harga anggur impor di perbatasan lebih murah dibandingkan harga eceran di Jakarta. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia lebih suka berdagang dengan orang Timor Leste karena keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar. Keuntungan dan ketergantungan terhadap barang-barang pokok dari Indonesia, yang kemudian pemerintah Indonesia segera meresmikan perdagangan RI-RDTL.

Jenis Minuman Berakohol yang dijual bebas di warung Timor Leste
Minuman Impor dari Australia
Kondisi Keamanan
Sarana pertahanan dan keamanan yang terdapat di Tasifeto Timur berupa pos-pos penjagaan Satgas Pamtas. Pos penjagaan ini terdapat pada desa perbatasan yang berbatasan langsung dengan Timor Leste. Saat ini terdapat 5 pos penjagaan yang diantaranya terdapat di Desa Silawan (Pos Mota’ain 1), Desa Dafala (Pos Dafala), Desa Takirin (Pos Fatubesi), Desa Sarabau (Pos Asulait) dan Desa Tulakadi (Pos Salore). Selain itu, pada pos perbatasaan juga dilengkapi dengan pos militer yang selalu melakukan penjagaan setiap harinya. Pos penjagaan militer dilengkapi dengan barak militer, dapur, beserta kelengkapan tinggal lainnya. Kondisi barak militer tempat tinggal para tentara penjaga sudah ada yang bangunan permanen seperti di Desa Silawan (Motaain) dan Desa Dafala, sedangkan pada desa yang lain masih semi permanen. Selain pos penjagaan Satgas Pamtas, keamanan dan pertahanan antara RI dengan Timor Leste khususnya di Kabupaten Belu sudah dilengkapi dengan pilar-pilar pembatas. Pilar-pilar tersebut selalu dipantau dan dipelihara agar tidak ada pergeseran garis batas yang telah ditentukan.

Kondisi sarana pertahanan dan keamanan tersebut secara umum sudah memadai. Namun, ada beberapa kebutuhan yang perlu dilakukan untuk peningkatan kualitas sarana tersebut seperti: penyediaan listrik untuk pos-pos penjagaan tersebut, penyediaan lampu lokal/halaman, peningkatan kualitas barak yang kondisi sekarang sudah rusak dan sederhana/semi permanen, dan peningkatan akses jalan khususnya untuk pos yang berada di bagian Selatan Lokpri Tasifeto Timur.

Sementara, untuk kondisi keamanan di Tasifeto Timur dapat dikatakan relatif aman dan sudah tidak ada konflik antar masyarakat, sehingga sudah tidak saatnya lagi bagi TNI & Polri untuk menjaga di garda depan perbatasan. Hal ini juga untuk menghilangkan rasa ketakutan bagi sebagian masyarakat untuk berinteraksi di kawasan perbatasan tersebut.

Adapun masalah yang paling krusial terkait keamanan di perbatasaan Tasifeto Timur adalah penyeludupan BBM yang hingga saat ini belum terselesaikan sehingga membutuhkan perhatian semua pihak terutama aparat keamanan. Selama ini kendaraan dengan berbagai jenis dari Timor Leste lebih banyak memanfaatkan BBM khususnya premium dan solar bersubsidi. Hal ini tentunya sangat merugikan masyarakat di Indonesia. Banyak kendala yang dihadapi oleh petugas apabila penyelundupan melalui jalan-jalan tikus pada desa perbatasan. Salah satu kendala adalah minimnya fasilitas dan juga kondisi fisik alam yang berupa bukit. Maraknya penyelundupan BBM ke Timor Leste dipacu oleh tinggi harga dan permintaan di negara Timor Leste yang mendorong banyak orang tergiur melakukan praktek illegal.

Pemerintah sebaiknya harus membangun SPBU khusus terutama di perbatasan Motaain untuk melayani kendaraan dari Timor Leste yang sering berkunjung. SPBU Khusus berfungsi untuk melayani kendaraan yang datang maupun kembali ke Timor Leste dengan harga khusus sehingga masyarakat Timor Leste tidak lagi dengan seenaknya menggunakan BBM bersubsidi di Indonesia, khususnya Kabupaten Atambua.

Selain penyelundupan BBM, yang juga menjadi masalah keamanan di kawasan perbatasan adalah masuknya narkoba ke Indonesia dari Timor Leste. Kemungkinan masuknya narkoba ini diperparah dengan belum adanya fasilitas X-ray di pintu perbatasan untuk mendeteksi setiap barang yang masuk. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kantor Bea Cukai di Motaain, pernah ditemukan narkoba seberat 6 kg pada tahun 2010 yang diseludupkan oleh 5 orang warga Timor Leste.

Well,  to be continue in next part of Timor Leste Border Guys :*

Sunday, January 26, 2014

An Answer From S.R.D.D




do you know
I own a story in my head
none about nation nor science
it'a all about a girl
a girl who you could fall for
even without starring at her face
she has a sweat voice
that you'll enjoy words by words you and she have
and if you try to understand her mind
unconsciously you would say: brililiant!

sometimes, you wish to see a smile on her look
so radiant, beautifully, it would
and if you're walking through into her eyes
you'll find out a charity along together with courage
as she spells the black magic
you would be intoxicated by it's witchery
and if you meet her in cinema, street, or classroom

you can call her: Asyifa

Pertama kali mau mengucapkan terima kasih buat kamu, yang tentunya bukan karena video sederhana ini. Terimakasih atas segala waktu kamu yang sudi banget untuk memperhatikan saya. Ahaha.

Well, video ini sebenarnya bukan pertama kali juga saya lihat karena saya pun mempunyai rekaman asli dari video ini. Dan dulu pengen banget bilang semua foto/video yang kamu ambil saat KKN itu fokusnya cuma ada satu yaitu: Saya!

Dan, kalau kamu memberikan nama video ini A Message From S.R.D.D
Maka postingan saya kali ini saya beri judul An Answer From S.R.D.D (ahahaha maksa banget kan).

Oke, let’s start from the beginning.

Saya mengenal kamu pertama kali saat kegiatan pembekalan KKN di kampus. Kesan pertama saya melihat kamu adalah cuek dan sepertinya susah untuk diajak kerjasama dalam kegiatan KKN. Hehee. Kemudian, karena saat itu kita terpaksa berada dalam satu rumah yang disewa bareng dengan teman-teman kelompok selama 1 bulan, itu cukup membuat saya mengenal kamu lebih.

Hmm, agak lupa obrolan pertama dengan kamu. Yang jelas waktu itu obrolannya cukup berat dan kamu punya banyak pengetahuan tentang itu, dan saya suka cowok yang lebih tau banyak daripada saya. Dan kamu pun mulai banyak berbicara dan peduli dengan kegiatan KKN kita saat itu.

Saya pun mulai tau kalau kamu punya rasa perhatian yang lebih untuk saya. Mungkin karena penasaran dengan saya. Tapi, saya gak pernah mau tau itu karena bisa membuat saya tidak nyaman. Iya, saya tidak nyaman kalau kamu suka dengan saya. Saya lebih senang sebuah pertemanan yang sederhana yang penuh dengan pengalaman hidup bukan yang selalu membuat saya berfikir. Bagi saya cukup profesi saya yang mengharuskan saya berfikir jauh. Hehehe

Dan, saya ingin banget menyampaikan pribadi kamu dari beberapa percakapan yang tersimpan dalam message di sosial media saya:

Orangnya suka sekali diskusi hal-hal yang berat dan sedikit ajaib.
Kendi    : Apa ada hal lain yg bisa kita ributin malam minggu ini?
Syifa     : Gak ada
Kendi    : Benarkah?
Syifa     : Iya, Mungkin km yg mau ngobrol
Kendi    : Politik konspirasi dg sedikit bumbu agama?
Syifa     : Ogaah ah, gak nyampe otaknya mikir

Orang yang suka bilang saya galak
Kendi    : Hey.. Kebetulan bgt
Syifa     : apa
Kendi    : Galak
Saya      : Galak apa
Kendi    : Harus nya km ngetik sesuatu yg histeris spt: haaiii.. Kend, apa kbr?
Syifa     : Owh gitu yaa, haaiii.. Kend, apa kbr?
Kendi    : Umm.. Lumayan, meskipun msh brasa galaknya. Msh jd planner?

Well, udah ah segitu dulu sudah mulai ngantuk lagi soalnya. Pokoknya terima kasih buat kamu-lah. hehehe

Friday, January 24, 2014

Wisata Dadakan: Gunung Padang

Haalooo insomniaa, kamu berhasil membuat saya membuka netbook dan melanjutkan ketikan saya untuk blog. hehe. Dan, kali ini saya ingin menulis tentang jalan-jalan saya ke Gunung Padang Tahun 2013 lalu. 

Untuk saya, tahu mengenai Gunung Padang sebenarnya sudah cukup lama. Awal mulanya tahu dari cerita saudara saya yang orang Sukabumi dan kemudian kebetulan membaca artikel di majalah National Geografi yang memang saya sempat berlangganan majalah tersebut. Pada saat membaca saya tidak merasa ingin pergi ke tempat tersebut. Hanya baru-baru ini, tepatnya pada awal tahun 2013 kemarin saya agak penasaran ingin tau seperti apa Gunung Padang. Itupun karena banyak bahasan di media sosial dan beberapa forum diskusi online yang heboh membahas tentang Gunung Padang. Hebohnya ini karena Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam melakukan penelitian Situs Gunung Padang. Menurut penelitian yang dilakukan tersebut mengungkapkan bahwa ada sejenis "Piramida" dibawah Gunung Padang yang dibuat oleh manusia bukan bentukan alam. Usia "Piramida" Gunung Padang tersebut diperkirakan 4.700-10.900 tahun sebelum masehi. Nah, bila dibandingkan dengan Piramida Giza di Mesir, yang hanya 2.500 SM maka usia "Piramida" Gunung Padang lebih tua daripada Piramida Giza yang artinya bahwa peradaban manusia pertama adanya di Indonesia bukan di Mesir. Namun pembuktian ini menurut pakar geologi masih belum maksimal sehingga masih ragu terhadap "Piramida" tersebut.  

Hasil Laboratorium Beta Analityc Radiocarbon Dating (BETA) di Miami, Amerika Serikat, yang diakui secara internasional, berhasil menentukan umur atau usia absolut situs ini. Pada kedalaman 0,5 meter situs ini berusia 500 Sebelum Masehi (SM). Pada kedalaman 3 meter, situs ini berusia 4700 SM. 

"Ditemukannya struktur batu pada kedalaman tersebut membuktikan bahwa di Indonesia pernah ada bangunan yang dibuat oleh manusia pada 4700 SM atau jauh lebih tua dari bangunan-bangunan kuno yang ada di dunia. Sebagai pembanding, bangunan piramida di Mesir dibuat pada sekitar 3000 SM. Hasil ekskavasi arkeologi di Gunung Padang ini tentu saja telah mengubah peradaban dunia."

"Jika di Gunung Padang ditemukan susunan batu buatan manusia sampai dengan kedalaman 8 meter, maka dunia pun akan tercengang. Pada kedalaman tersebut kemungkinan akan ditemukan bukti peradaban umat manusia pada 11600 SM. Padahal peradaban besar dunia baik di Mesopotamia, Mesir, Cina, maupun Yunani yang tertua berusia sekitar 4000 SM." (M
ajalah Tempo edisi 27 Agustus 2012 berjudul "Mencari Terang di Gunung Padang)

Nah, dari kehebohan berita tersebut, alhasil saya pun mengeluarkan celetukan ke temen-temen kerja saya untuk jalan-jalan ke Situs Megalithikum tersebut. Dan, sesuai dugaan saya respon mereka malah banyak bertanya tentang Gunung Padang tersebut sehingga ajakan saya pun tidak langsung di ‘iyakan” oleh mereka. Saya pun kemudian mengurungkan rencana tersebut untuk tidak diteruskan karena memang sudah disibukkan dengan pekerjaan.

Tapi, beberapa bulan kemudian, ada salah seorang teman saya yang ternyata niat banget pergi ke Gunung Padang (melebihi niat saya saat itu hehe). Dan kami pun merencanakan perjalanan ke Gunung Padang dengan sangat mendadak sekali!. Iya mendadak, karena kami tidak tahu jalan, belum bilang ke orang tua dan harus mencari supir untuk membawa mobilnya, dan kami merasa tidak ada kesempatan waktu lagi kalau kami tidak berangkat besok Sabtu, 29 Juni 2013. *Ahaha Sok sibuk banget yaa* :p

Kalau ditanya bagaimana pergi ke Gunung Padang?. Maka saya tidak menyarankan kalian yang membaca blog ini mengikuti perjalanan yang kami pilih. Kenapa? Karena sangat membutuhkan waktu yang sangat lama. Yap, hampir 7 jam perjalanan kami baru sampai di Gunung Padang. Bodoh banget kan kan. Padahal seharusnya hanya butuh 3 jam perjalanan saja. Kok bisa sampai 7 jam perjalanan? Gini ceritanya. 

Sebenarnya untuk pergi ke Gunung Padang yang berlokasi di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat cukup dengan mengambil rute ke arah puncak via Tol Jagorawi. Tetapi karena pada hari Sabtu jalur puncak sudah sangat padat sekali maka kami mengambil rute menuju menuju Sukabumi terlebih dahulu baru kemudian Cianjur. Normalnya jika melalui jalur puncak hanya butuh 3 jam tetapi kalau melalui jalur Sukabumi-Cianjur bisa sampai 7 jam. Jauh banget kan waktu tempuhnya? Nah maka itu saya sangat menganjurkan ambilah jalur puncak dan jangan pergi terlalu siang kalau berangkat di hari Sabtu karena jalur puncak sering padat arus lalu lintasnya.

Sampai di Desa Warung Kondang ada papan nama yang menunjukkan arah menuju Situs Gunung Padang. Ikutin saja jalan tersebut kurang lebih jarak 20 km yang ditempuh lebih dari satu jam maka akan sampai di Situs Gunung Padang. Melewati jalan ini haruslah berhati-hati karena banyak lubang di permukaan jalan dan banyak tikungan yang cukup tajam. Saat itu, kami tiba sekitar pukul 15.00 WIB dan sudah sangat khawatir kalau sudah tutup karena terlalu sore tibanya. Tapi Alhamdulilah, ternyata kami masih bisa masuk ke Situs Gunung Padang.

Sebagai informasi tiket masuk ke Situs Gunung Padang sangat-sangat murah sekali, yaitu hanya Rp 2.000/orang. Nah karena kami baru pertama kali kesana dan disarankan untuk membawa pemandu maka kami pun menyewa pemandu dengan tujuan untuk mendapatkan infromasi tentang situs tersebut, mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dan berbagi rezeki dengan masyarakat disana.

Tiket Masuk Situs Megalith Gn. Padang
Dan, untuk mencapai lokasi situs, kami harus melalui tangga yang sangat curam. Sebenarnya ada tangga yang lebih landai, namun karena disarankan pemandu untuk mencoba tangga yang aslinya (yang lebih curam) maka kami pun mencobanya. And you know what? Asliiiiii tanjakkan tangganya bikin pegel betis bangeeet bangettt. Padahal jumlah anak tangganya gak terlalu banyak juga. Untung aja siy abang pemandu sabar nungguin saya dan satu temen saya yang harus beberapa kali berhenti untuk minum dan mengambil nafas. Hehehe. Nah, karena kami kapok melalui tangga aslinya, maka ketika pulang pun kami menggunakan tangga yang lebih landai. 
Tangga Menuju Lokasi Gn. Padang
Tangga yang lebih landai yang sengaja dibuat oleh pemerintah setempat
Dan sesampainya di lokasi situs, dengan bodohnya saling nanya, Ehh ini yaa batu-batunya? Yang jelas-jelas disitu memang cuma ada batuan doang. Nah, karena kami tidak mempelajari disiplin ilmu geologi ataupun arkeologi, alhasil kami pun tidak begitu mengerti tentang perdebatan usia bebatuan tersebut. Tetapi yang jelas batuan tersebut menimbulkan suara-suara yang nyaring jika kita ketok-ketok dan bentuk batunya berbeda. Untuk bangunannya sendiri terdiri dari lima teras dengan ukuran berbeda-beda. Batu-batu tersebut belum sama sekali mengalami sentuhan tangan manusia dalam artian belum dikerjakan atau dibentuk oleh tangan manusia. Balok-balok batu yang jumlahnya sangat banyak itu tersebar hampir menutupi bagian puncak Gunung Padang.

Pemandangan disekitar Situs Gn.Padang yang udaranya sejuk banget



Well, terlepas dari perdebatan usia bebatuan di Gn. Padang, kalau saya melihat dari perspektif disiplin ilmu yang saya pelajari, Situs Gn. Padang ini memang telah menjadi tempat tujuan wisata di Kab. Cianjur. Namun, sebagai tempat tujuan wisata, aksesibilitas menuju lokasi ini sangat disayangkan sekali karena kondisi jalannya rusak dan tidak ada moda transportasi yang menjangkau hingga ke lokasi. Satu-satunya moda angkutan yang dapat mengantarkan hanya berupa ojek. Sebenarnya ada angkutan desa hingga ke Desa Karyamukti namun jumlahnya sangat minim sekali dengan waktu kedatangan yang cukup lama. Selain itu, ada beberapa area yang bisa dikembangkan oleh pemerintah daerah setempat disekitar lokasi yaitu adanya perkebunan teh yang cukup luas. Entah apakah perkebunan itu milik pemerintah atau swasta tetapi yang jelas jika ini didorong pengembangannya mungkin bisa meningkatkan tambahan ekonomi bagi masyarakat sekitar. 

Nah, segitu deh cerita singkat akibat penyakit insomnia saya, penyakit yang membuat saya sedikit produktif di malam hari tentunya..ahahah :p

Wednesday, January 8, 2014

Papa

Kalau ingat untuk jangan pernah mengeluh menjalani kehidupan, maka orang yang saya jadikan panutan adalah papa. Yap, papa memiliki nama lengkapnya Sunarto Harjo Mulyo, anak terakhir dari lima bersaudara yang dibesarkan di Klaten, Jawa Tengah. Hingga memasuki usia 20-an hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib dan bertemu dengan jodoh hidupnya (re: bertemu mama). hehehe

Yap, papa ini seorang laki-laki yang sangat sederhana dan selalu mementingkan kebutuhan anaknya. Papa yang selalu menomor satukan pendidikan kepada anak-anaknya. Papa yang selalu baik hati antar jemput anaknya hingga sekarang saya berusia 25 tahun. Papa yang punya tingkat kekhawatiran tinggi tehadap anak-anaknya.

Kalau ingat kenangan masa kecil saya tentang papa, maka yang pertama saya ingat adalah orang yang selalu menciumi hidung saya disaat saya kecil hingga kemudian berhenti saat saya memasuki SMP. Iyaa, papa senang banget cium anak-anaknya sehabis pulang kerja dan saat itu, saya selalu kesal karena geli dan merasa kebauan. Hehehe.

Papa juga yang selalu memaksa saya untuk aktif setiap kegiatan ekstra-kulikuler di sekolah. Saya yang bisa dibilang anak rumahan sebenarnya sangat malas untuk mengikuti segala aktifitas di sekolah tetapi karena papa yang selalu memaksa, mengantarkan dan menunggui saya mengikuti kegiatan ekstra-kulikuler maka saya pun terpaksa menjalaninya sampai akhirnya saya terbiasa dengan aktifitas ekstra tersebut. Bahkan saat saya kuliah dulu, papa lah yang berpesan kalau saya harus ikut BEM atau himpunan. Sampai pada akhirnya papa pula yang memotivasi saya untuk mengambil posisi ketua himpunan (yang sebenarnya saya ingin bilang tidak ke papa).

Papa juga yang selalu mengajarkan saya untuk berusaha menjadi nomor satu, untuk menjadi anak perempuan diatas rata-rata dan selalu mengajarkan saya untuk tampil cantik. Papa pun suka mengomentari pakaian saya kalau saya senonoh berpakaian. Bahkan dulu, saya dilarang menggunakan baju yang terlihat minim.

Papa yang sampai saat ini masih suka masuk kamar hanya untuk mengecek apakah saya sudah tidur dan mematikan TV yang selalu saya biarkan menyala hingga pagi. (dan disini saya hanya pura-pura tidur pah, sekalipun saya beneran sudah tidur saya tau kalau papa masuk kamar pasti sudah jam 02.00 wib).

Ah yaa, papa juga laki-laki paling rajin pergi solat ke masjid, salut sama papa, dulu saat masih kerja semalam apa pun pulang kantor, paginya papa sudah solat subuh di masjid dan berangkat setelah subuh. Sampai-sampai saya hanya bisa bertegur sapa di hari sabtu-minggu.

Papa pun laki-laki yang menjadi mahrom saya ketika saya menjalani ibadah umroh. Beliau yang sempat ragu untuk ibadah ke Mekkah karena ketakutannya, dan Alhamdulillah sekarang malah ingin terus di Mekkah.

Ahh, papa, saya sangat menyayangi mu dan berusaha untuk tidak pernah mengecewakan dan selalu berusaha penuhi pinta mu. Dan saya merasa masih banyak sekali kekurangan saya dalam penuhi pinta papa. Maaf ya pah.. :(

Hmm, dan saya ingin sekali memiliki pasangan hidup seperti papa. Laki-laki yang cerdas, penyayang, pelindung, dan sederhana dalam hidup. Saya ingin sekali untuk tidak membuat papa khawatir melihat saya menghadapi dunia. Dan semoga saya segera bertemu dengan laki-laki seperti papa. Aamiin.